Media elektronik www.majalahburungpas.com, update ragam warta hobi dan lainnya, klik via  android kamu sejak sekarang pasti mendapat informasi penting didalamnya, silahkan simak  Warta di tiap updatenya  ( Terimakasih)
Kembali Ke Index Berita

Negara-negara Arab Idul Fitri jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011

Selasa, 30 Agustus 2011 | 12:18 WIB
Dibaca: 1860
Negara-negara Arab Idul Fitri jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011
DOk. Foto Abdul rahman/Gulf news

Berita luar negri tentang idul Fitri muatan majalahburungpas.com, Negara Arab, semisal Qatar, Arab Saudi dan Qatar juga sepakat untuk merayakan 1 Syawal pada Selasa, 30 Agustus 2011. Keputusan secra serempat tersebut bukan hanya dari satu Negara saja tetapi beberapa negara juga memutuskan hal yang serupa seperti halnya Negara Kuwait, Yaman, Bahrain, Mesir, Palestina Yordania, Sudan, Lebanon serta Syria juga kompak.

Seperti kutipan dari Laman Gulf News.com menyampaikan forum komunikasi dalam menetapkan 1 Syawal bagi Negara Uni Emirat Arab juga memutuskan Idul Fitri juga jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011.

Komite yang di pimpin Menteri Kehakiman Hadif Juan Al Dahiri hari Seninya menyatakan bahwa bulan baru atau hilal telah tampak secara nyata. Hilal adalah bulan sabit pertama yang telah di amati serta tampak di ufuk barat, dan sesaat setelah matahari terbenam, namun hanya tampak seperti goresan garis cahaya yang tipis “katanya.

Penetapan satu syawal ini kemudian disepakat hari senin merupakan hari Akhir puasa Ramadan 1432 hijriyah, oleh sebab itu kami juga mengontak Negara-negara tetangga “ungkap Abdullah Al saif, selaku ilmuwan dan astronom yang mendapat kepercayaan menjadi anggota komite.

Abdullah menambahkan idul fitri di tahun 1432 H. ini terlihat agak susah, apalagi 2 hari bulan berada diatas cakrawala setelah matahari terbenam, sehingga ini yang menjadikan kesulitan untuk mengambil keputusan dan menentukan 1 syawal “bebernya kembali.

Untuk memberikan informasi bulan baru telah muncul, maka team komite mengambil cara, yaitu dua parameter sebagai bahan pembelajaran dan pertimbangan. bahan pertama adalah bulan sabit harus muncul di cakrawala “tandasnya lagi.

Team yang menetukan satu syawal tahun 2011 ini menggunakan alat digital agar dapat mendeteksi bulan baru tersebut. Dalam mendeteksi bulan baru komite juga telah melakukan dan memastikan bahwa bulan baru telah tampak di cakrawala, namun nampak setelah 16 jam.  di kutip dari laman gulf news * Red *  


Berita Terkait


4 Komentar


kuswandy achmad marfu
Kamis, 1 September 2011 | 06:44 WIB
Waktu sholat dan waktu shaum ramadhan menggunakan pedoman yang berbeda, shalat berbasis perjalanan matahari.sementara shaum berbasis perjalanan bulan. shubuh dengan gejala terbit pajar, dzuhul dengan gelincirnya matahari, aahsar dengan bayang-bayang, magrib dengan tenggelamnya matahari, isya dengan hilangnya cayaha merah diufuk barat. lalu apakah kita setiap sholat mengamati tanda-tanda alam ini? bukankah cukup dengan menggunakan jadwal yang telah tersedia yangdisusn oleh ahlinya. lalu kenapa bulan sabit harus dengan ru'yat terus-terusan dan berebut pendapat, padahal ilmu pengetahuan telah dengan jelas mewariskan ilmu hisab yang keakuiratannya 100 % terbukti benar?. Mengapa Indonesia tidak berkiblat ke negara-negara yang bertetangga dan menentukan awal syawal adalah hari selasa? ada apa Indonesia? ada apa dengan sidang isbat yang dengan arogan membela organisasi dan atas nama organisasi? bukankan cukup sejarah nabi Muhammad mengumumkan idul fitri setelah ada orang yang mengabarkan kepada Rasul bahwa ia telah melihat bulan? dan orang itu tida mendapat sk serta disumpah untuk melihat hilal? Waduh nampaknya mayoritas tunggal sudah dipakai dalam menentukan sesuatu yang berkaitan dengan agama? kalau demikian tak perlulah kita belajar hisab dengan memeras otak mengingat dan menghapalnya. cukup kembali ke alam liat bulan terhalang awan dan cukupkan 30 hari shaum, padahal orang lain terlah berebuit lahan di bulan. Ummat Islam Indonesia merebut melihat bulan, tak lihat, tak nampak, ora ono bulan, teu ningali bulan, tak nampak rembulan tan ada sabit dst. Birokrat cenderung memaksakan kehendak tanpa dasar keilmuan. Bukankah Islam menghargai orang yang berilmu. Beruntung ada Muhammadiyah yang berani beda untuk menjadi pelopor penerapan Ilmu Pengetahuan dalam beramal Ibadah. Mari berfikir ilmiah, berakidah ilahiyah, beramal sesuai sar'i dan menjadi terbuka terhadap inovasi keilmuan untuk makin taat menjalankan agama .
Balas
kuswandy achmad marfu
Kamis, 1 September 2011 | 06:50 WIB
ah ummat islam Indonesia ketinggalan ah kolot tak mau lihat realita. atau ada birokrat bohong demi kepentingan politis saja? boleh kuasa tapi jangan kibuli ummat. bulan yang dilihat sama, garis lintang berdekatan, pengetahuan unggul. tapi hasil ru'yat beda, ada yang berhasil ru'yat di tolak karena tidak disumpah oleh kemenag? kepentingan apa nih? hubbud dunya takut hilang jabatan?
Balas
ahmad fauzi m
Kamis, 1 September 2011 | 12:20 WIB
Mungkin pemikiran semua sama antar komentator yang akhirnya menilai bahwa ada kepentingan di balik itu, betapa tingginya harga gengsi shg harus mengorbankan mengaku orang pinter jadi keblinger, disadari apa tidak gerhana bulan/matahari yang masih jauh kedepan aja bisa tepat pada hitungan, apa kira kira hanya menentukan tanggal 1 syawal aja gak bisa, tidak lagi mengakui kecanggihan tekhnologi, kalau gak malu kan bisa saja pegang hp tanya pada negara tetangga atau negara kiblat islam kan sudah selesai gak ada masalah, kemudian apa selama ini tak pernak ada evaluasi mungkin dengan melihat bulan setelah hari kedua " bulan dah jelas tuh " jadi gak perlu memaksakan kehendak karena gengsi malu dong sama negara tetangga kapan idul fitrinya ? di tambah lagi prinsip cari yang lebih kecil mudhorotnya contoh ; Andai aku masih puasa tapi sudah lebaran kan kharam, andai aku sudah gak puasa tapi belum lebaran kan cuma ganti, kemudian dengan masalah zakat fitrah kalau terlambat kan jadi sodakoh biasa. Tolong ya bung ke depan kita tetap satu meski dengan perbedaan tapi jangan terus perbedaan dianggap sebagai hal yang indah sehingga setiap ada ketidak satu pahaman itu jadi dalih dan alasan, sehingga banyak umat yang meninggalkan ulamanya dan umaronya, contoh yang gampang saja pada saat lebaran saya bertanya " Lebaran kapan ? lalu di jawab " aku lebaran besok, tapi sejak hari ini aku sudah gak puasa " jadi pada kenyataannya keyakinan perorangan itu seakan tergadai dengan rasa solidaritas.
Balas
yanjoe
Selasa, 6 September 2011 | 10:12 WIB
memang agak aneh ya karena kita berbeda dalam memahami sesuatu.Contoh :seorang anak berkata kepada ayahnya : yah,sepatuku sudah rusak.Apa reaksi ayahnya? Apa ayahnya tahu maksud perkataan anaknya .Secara sintaksis memang anaknya hanya sekedar memberitahu bahwa sepatunya rusak,tapi secara semantik sebenaaaarnya ayah harus tahu baaahwa anaknya minta dibelikan sepatu baru.Jadi sebenarnya yang jadi pokok masalah bukan kalimat yang terucap tapi apa yang tersirat dari kalimat yang ada.Kita tahu bahwa nabi Muhammad saw bersabda :berpuasalah kamu ketika melihat bulan dan berbukalah kamu ketika melihat bulan.Apa yang menjadi masalah dalam sabda nabi ini,melihat bulan atau ada dan tidaknya bulan (hilal).Kalau kita mau bersikap jujur,mestinya bukan "melihat" yang jadi tujuan tapi melihat hanya merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya hilal.Untuk mengetahui ada atau tidaknaaya hilal dapat juga dilakukan dengan cara lain yaitu dengan cara hisab.Dari laporan yang disampaikan oleh peserta sidang isbat diketahui bahwa hilal sudah ada,sudah wujud,walaupun masih di bawah 2 derajad.Jadi karena hilal sudah ada(yang mau dilihat /atau dirukyat sudah ada walaupun tidak dapat dilihat dengan indera mata baik dengan atau tanpa alat) mestinya hari berikutnya sudah harus dinyatakan sebagai bulan baru.Untuk 1 Syawal 1432 H sudah dapat dipastikan jatuh pada 30 Agustus 2011. Kesimpulannya :Melihat bulan hanya salah satu cara untuk mengetahui ada atau tidak adanya hilal,bukan satu2nya cara yang harus ditempuh.Masih ada cara lain yang dapat digunakan untuk mengetahui ada atau tidak adanya hilal yaitu dengan cara perhitungan atau hisab.Menggunakan gabungan hilal dan rukyat adalah pengingkaran terhadap hasil hisab yang sudah diketahui keakuratannya Bukankah gerhana matahari,gerhana bulan, sudah bisa diketahui jauh sebelumnya.Bukankah ketika kita mau sholat kita tidak perlu melihat posisi matahari apakah sudah tergelincir ke barat,sudah tenggelam,sudah terbit?Bukankah pada saat mau sholat subuh kita tidak perlu melihat fajar sudah terbit atau belum?
Balas

Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi







     


PAS Tv
Watch Awas perkutut kini jadi incaran maling "ujang ps kebobolan 330 perkutut kerugian 3oo jutaan in single page?

PAS Images

Surat Pembacashow all

Statistik Website


    Page Views   15589896 Page View
    Visitors   806845 Pengunjung
    Visitor Online   7 Pengunjung Online