Media elektronik www.majalahburungpas.com, update ragam warta hobi dan lainnya, klik via  android kamu sejak sekarang pasti mendapat informasi penting didalamnya, silahkan simak  Warta di tiap updatenya  ( Terimakasih)
Kembali Ke Index Berita

Tanggulangi Wabah Zoonosis PDHI Gelar Kivnas

Jumat, 12 Oktober 2012 | 20:30 WIB
Dibaca: 1744
Tanggulangi Wabah Zoonosis PDHI Gelar Kivnas
pemateri Kivnas ke 12

Info umum-majalahburungpas.com, warta kesehatan, Banyaknya penyakit baru yang dapat menular pada manusia dan hewan sekaligus (zoonosis) yang muncul dewasa ini merupakan fenomena yang tidak dapat diselesaikan secara sektoral oleh kalangan kedokteran umum.  Kedokteran hewan sesuai konsep “one health” oleh sebab itu saatnya hal ini harus dilibatkan secara integral dalam mengharmoniskan kesehatan masyarakat, hewan, lingkungan, dan bahkan ekosistem.

Dalam rangka mengantisipasi tantangan tersebut, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) menggelar Konferensi Ilmiah Nasional (Kivnas) ke-12, di Yogyakarta. Kivnas yang dihadiri 1.300 dokter hewan dari seluruh Indonesia tersebut membahas isu-isu stategis terkini dan langkah-langkah sumbangsih profesi kedokteran hewan bagi kemajuan bangsa dan negara.

Adapun tema yang diusung dalam Kivnas kali ini adalah Kepimpinan Kedokteran Hewan Menghadapi Panyakit Menular Baru Mewujudkan Kesehatan Indonesia, dengan menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri.

Zoonosis

Ketua Umum Pengurus Besar PDHI, Drh Wiwiek Bagja, menjelaskan di pilihnya Yogyakarta sebagai tuan rumah penyelenggaraan KIVNAS, mengingat  Yogyakarta mampu mempertahankan sebagai wilayah bebas rabies.

 Sebagaimana diketahui Rabies adalah salah satu zoonosis yang disoroti dewasa ini karena kejadian di Bali telah menewaskan penduduk, mengganggu ketentraman batin masyarakat,  dan bahkan mengancam dunia pariwisata perekonomian setempat.

Ditambahkan Wiwiek lebih dari 60% kasus penyakit menular pada manusia di dunia ditularkan melalui hewan.

Dan dewasa ini terbukti munculnya zoonosis baru erat kaitannya dengan penangkapan ilegal satwa liar serta pembukaan hutan. Di mana 70% zoonosis tersebut berasal dari satwa liar.

Dan Indonesia yang merupakan negara tropis yang kaya akan keanekaragaman satwa ternyata menjadi kewaspadaan (warning) dunia, akan potensi Indonesia sebagai sumber penyakit hewan baru dan zoonosis bersumber satwa liar. 

“Pengelolaan sumberdaya hutan dan hewan yang tidak terkendali, menyebabkan Indonesia mendapat sebutan sebagai “Hot Spot Zoonosis” dan menghadapi bom waktu wabah zoonosis.” tuturnya. Meningat bahaya yang ditimbulkan, sambung Wiwiek, Pemerintah telah merespons mengatasi Zoonosis dengan membentuk Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis di bawah Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Sementara itu, penanganan zoonosis pada hewan secara teknis ditangani oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, sedangkan pada manusia oleh Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan.  “Namun upaya ini tidak cukup jika tidak melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk kalangan dokter hewan di seluruh Indonesia” harap Wiwiek.

Audiensi Sri Paduka Pakualam

Sebagai rangkaian Kivnas karena di dorong oleh tanggung jawab profesi kedokteran hewan, maka Pengurus Besar PDHI dengan didampingi oleh Ketua PDHI Cabang Yogyakarta Dr. Drh Widagdo SN dan didampingi oleh Pimpinan FKH UGM Prof Wayan Tunas Artama sehari sebelumnya juga melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Pakualam IX. 

<< Dr Widagdo,

Audiensi ini selain meminta Paduka untuk membuka KIVNAS XII, juga menekankan peran penting DIY sebagai daerah pariwisata domestik dan internasional dengan status daerah bebas rabies yang merupakan aset nasional dan perlu di jaga secara berkelanjutan. 

Dan dalam kesempatan tersebut Pakualam IX secara khusus memberikan perhatian terhadap masalah pengendalian zoonosis, terutama dikaitkan dengan pentingnya komunikasi antara profesi dokter hewan dengan kalangan lain dan pentingnya peningkatan peran dan fungsi dokter hewan di dalam kepemerintahan DIY.

Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah mempelajari Undang Undang No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, sebagai landasan hukum menangani zoonosis pada hewan dan sebagai pertimbangan penguatan kelembagaan otoritas veteriner yang perlu diselenggarakan di DIY.

Pakualam juga menjelaskan jalinan kerjasama profesi dokter dan dokter hewan dalam pengendalian kasus-kasus penyakit menular menjadi keniscayaan. Di mana DIY telah menunjukkan hubungan sinergi antara 2 (dua) profesi penanggung jawab kesehatan manusia dan penanggung jawab kesehatan hewan dalam pengendalian penyakit-penyakit zoonosis.

Antara lain upaya keras pemberantasan kasus leptospirosis yang beberapa kali melanda sebagian kabupaten di wilayah ini. Dalam konteks kelembagaan otoritas veteriner, FKH UGM memiliki peran yang strategis untuk melakukan kajian akademis DIY sebagai percontohan nasional dalam merintis penguatan kelembagaan otoritas veteriner. 

Hal ini dimungkinkan mengingat DIY memiliki perangkat UU No. 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta” ungkap wagub. 

Pakualam IX juga menuturkan dengan modal SDM, institusi pendidikan dan pemerintah, kultur masyarakat serta keunikan yang dimiliki DIY, maka sangat dimungkinkan otoritas veteriner dimulai embrio pembentukannya dari DIY, karena secara historis Yogyakarta telah membuktikan sebagai daerah dengan sejarah kepemimpinan, keteladanan, perintis, dan percontohan yang telah teruji.

Kompetensi dokter hewan

Sementara itu ketua Panitia KIVNAS XII, Dr Drh Heru Setijanto, APP (Kon) menjelaskan bahwa selain memaparkan makalah ilmiah, konverensi ini juga dimaknai dengan Rapat Kerja Nasional semua organisasi cabang  (43) maupun asosiasi keilmuan dan keseminatan (15) di bawah PDHI.

Hal tersebut dimungkinkan mengingat secara profesional dan global, dokter hewan adalah profesi yang diakui dan wajib menjadi garda terdepan dalam pemberantasan dan pengendalian serta penjaga status suatu penyakit hewan.

“Urusan kesehatan hewan, memberikan jaminan kesehatan hewan dan jaminan keamanan produk hewan, dalam rangka kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab dokter hewan” pungkas Heru.  **anjar


Berita Terkait


Tidak Ada Komentar


Tinggalkan Komentar


*) Wajib Diisi







     


PAS Tv
Watch Suara burung produk Acc Oktober 2014 in single page?

PAS Images

Surat Pembacashow all

Statistik Website


    Page Views   16048656 Page View
    Visitors   825486 Pengunjung
    Visitor Online   10 Pengunjung Online